Sabtu, 09 Agustus 2014

AMARULAH ASBAH (BANG UWO) ; POLITISI BETAWI DAN NU


Bang Uwo ; Jangan Anti Partai Politik

          Saya awalnya mendengar nama Amarullah Asbah atau biasa dipanggil Bang Uwo setelah Pemilihan Gubernur dan Wagub DKI Jakarta periode 2002-2007. Saat itu saya bersama teman-teman FKMB (Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi) melakukan aksi unjuk rasa menolak dicalonkannya Sutiyoso sebagai Gubernur DKI Jakarta dan mendesak partai partai untuk mencalonkan tokoh Betawi sebagai Gubernur DKI Jakarta.
          Pada akhirnya, Rabu 11 September 2002 melalui rapat paripurna DPRD DKI Sutiyoso dan Fauzi Bowo terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI dengan meraih 47 suara dari 85 anggota DPRD yang mengikuti rapat pemilihan. Para demontran—termasuk FKMB—kecewa dengan hasil pemilihan tersebut dan berujung dengan bentrokan dengan aparat kepolisian.
          Malam harinya, saya dan teman-teman FKMB (ada Boim. Erwin, Anwar, Yusup Cupeng dkk) berkumpul di Kenari untuk melakukan evaluasi dan refleksi atas hasil pemilihan tersebut. Di antara teman-teman ada yang kecewa kepada partai politik dan anggota DPRD yang tidak aspiratif. Bahkan ada teman teman yang anti Partai Politik.
          Kekecewaan generasi muda Betawi ternyata juga diamati oleh Bang Uwo yang saat itu menjadi anggota DPRD DKI dari Fraksi Golkar. Kendati saat pemilihan Partainya Bang Uwo mendukung Sutiyoso-Fauzi Bowo tetapi Bang Uwo bisa memaklumi sikap politik para generasi muda. Bang Uwo memberikan nasehat politik kepada generasi muda Betawi agar tidak anti partai politik. Anak muda Betawi harus masuk partai politik dan menjadi anggota dewan jika ingin orang Betawi menjadi gubernur Jakarta ke depan.
          Dalam beberapa kesempatan Bang Uwo kerapkali memberikan wejangan kepada generasi muda Betawi agar tidak anti kepada partai politik dan jika perlu masuk ke semua parpol yang ada. Hal ini bisa saya pahami karena bang Uwo melihat banyak kader muda Betawi yang tergabung dalam FKMB adalah aktivis mahasiswa dari PMII, HMI dan GMNI yang seringkali turun jalan mengkritisi parlemen dan pemerintah. Saya sendiri selain aktivis FKMB juga aktivis PMII yang acapkali unjuk rasa menentang bahaya laten Orde Baru dan mendukung pembubaran Partai Golkar saat itu, Partai dimana Bang Uwo bergabung.
          Melihat kader muda Betawi yang kritis Bang Uwo tidak alergi bahkan merangkul mereka karena merupakan kader muda potensial ke depan. Ia menyewa Kantor Ciks Cikini untuk dijadikan ajang kongkow-kongkow generasi muda dan aktivis Betawi. Bang Uwo mengadakan pengajian politik setiap malam Jumat yang dihadiri para aktivis muda. Tiap malam Jumat itu bang Uwo memberikan paparan tentang pentingnya peran dan kiprah generasi muda Betawi ke depan. Di Gedung Ciks inilah tempat ajang tumpah gagasan kaum intelektual muda Betawi yang difasilitasi oleh Bang Uwo.
          Dalam beberapa hal tertentu, Bang Uwo juga ikut turun gunung bersama anak muda Betawi seperti ketika mengajukan protes keras kepada Menpora Adhyaksa Dault pada bulan November 2006. Saat itu puluhan aktivis dan tokoh Betawi keberatan pada teks sambutan Adhyaksa dalam peringtaan Hari Sumpah Pemuda yang tidak mencantumkan peran orang Betawi. Tak ayal, teks pidato yang dibukukan dan disebarkan ke sejumlah lembaga itu memancing kemarahan orang Betawi. Menanggapi keberatan tersebut, Menpora meminta maaf dan mengatakan bahwa teks pidatonya yang dibukukan itu tidak sama dengan teks aslinya. Dengan kata lain, pidato yang ada di tangan Bang Uwo dan tokoh Betawi lainnya itu dipalsukan.
          Dalam perjalanannya, kendati sudah tidak duduk di DPRD lagi, Bang Uwo tetap “merawat” generasi muda Betawi. Ia tetap memberikan waktu khusus untuk anak muda Betawi. Ia selalu hadir dalam setiap kegiatan aktivis muda Betawi, terutama FKMB. Bang Uwo tidak hanya datang acara pengkaderan anak Betawi saja, bahkan ia kerapkali datang acara pernikahan anak muda Betawi yang dibina oleh Bang Uwo. Hampir semua anak muda Betawi yang menikah bang Uwo pasti hadir. Jarang ada tokoh Betawi seperti Bang Uwo yang tetap setia mendengar curhatan dan keluh kesah anak muda Betawi baik keluh kesah berkaitan tentang politik, organisasi hingga keluh kesah pribadi.

Bang Uwo ; NU Yang Betawi, Betawi Yang NU

          Betawi dan NU merupakan dua sisi yang sulit dipisahkan. Beberapa tradisi amalan ibadah Betawi itu sama seperti NU begitupun sebaliknya. Yang agak beda adalah tokoh Betawi belum tentu tokoh NU begitu juga sebaliknya dan aktivis Betawi belum tentu aktivis NU begitu juga sebaliknya. Tapi hal itu tidak berlaku buat bang Uwo. Ia adalah NU yang Betawi dan Betawi yang NU. Dalam suatu kesempatan Bang Uwo pernah bilang  "Ane malu kalo berbuat yang kaga bener, di pundak ane ada dua beban, pundak kanan ada NU dan di pundak kiri ada Betawi, dipotong tangan ane keluar darah NU dan Betawi"
            Bang Uwo pantas berkata demikian karena Bang Uwo merupakan Mantan Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta satu periode dengan KH. Hasyim Muzadi yang saat bersamaan menjadi Ketua PW GP Ansor Jawa Timur. Tidak hanya itu, bang Uwo juga paham sejarah NU baik di Jakarta maupun luar Jakarta. Saya sendiri sering mendengar cerita NU dari Bang Uwo karena banyak cerita NU terutama NU Jakarta yang tidak terungkap dalam buku sejarah NU. Bang Uwo bercerita tentang peran dan kiprah H. Abdul Manaf, kakek H. Fauzi Bowo dalam mengembangkan NU di tanah Betawi. Sehingga bang Uwo anggap wajar ketika Fauzi Bowo menjadi Ketua PWNU DKI Jakarta yang dianggap meneruskan perjuangan kakeknya, H. Abdul Manaf.
            Ketika masih menjadi anggota Banser, belum menjadi Ketua Ansor DKI Jakarta, bang Uwo bercerita bahwa dia merasa bangga bisa menjadi seksi keamanan dalam setiap acara Muktamar NU. Bang Uwo bertugas mengawal kiai kiai sepuh selama di arena muktamar dan Bang Uwo merasa kagum dengan kadar kealiman para kiai NU dalam komisi bahtsul masa’ail. “Ane bawain tuh kitab kitab para kiai kalo lagi mau bahtsul masa’il, ga apa apa deh ane kaga lancar baca kitab kuning, moga aja ada berkahnye” ujar Bang Uwo suatu sore hari di Kantor Bamus Betawi.
            Di depan bang Uwo jangan coba coba mengaku aktivis NU Betawi. Bang Uwo bisa dikatakan tim verifikasi ke-NU-an orang Betawi, Pernah ada tokoh Betawi yang mengaku aktivis NU di masanya dan berharap dimasukkan menjadi Dewan Penasehat GP Ansor DKI Jakarta. Ketika hal itu saya konfirmasi kepada Bang Uwo maka dengan enteng bang Uwo bantah “Ane tuh paham siapa aja orang Betawi yang aktivis NU, jangankan dia ngomong, dia dehem aja ane udeh tau dia aktivis NU atau bukan”
            Seperti dalam bidang lain, tentang NU juga bang Uwo seperti ensiklopedi berjalan. Kalau kepada yang lain Bang Uwo bercerita hanya tentang budaya Betawi, maka kepada saya ditambah lagi tentang NU. Nampaknya Bang Uwo seperti ketemu teman ngobrol yang pas dengan saya jika cerita tentang NU. Ini wajar karena bang Uwo tahu kalau saya adalah anak muda Betawi yang santri dan alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Bang Uwo juga bercerita ketika ia ikut hadir Muktamar NU ke 30 di Lirboyo Kediri tahun 1999. Tidak hanya itu bang Uwo juga mengenal peran kiprah para Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo seperti KH. Mahrus Ali, KH. Maksum Jauhari dan KH. Idris Marzuqi.

Bang Uwo ; Pilkada DKI Jakarta 2007 dan 2012  

            Dalam hajatan Pilkada DKI Jakarta peran kiprah Bang Uwo tak terbantahkan, baik dalam pilkada DKI Jakarta 2007 maupun 2012. Dalam Pilkada 2007 Bang Uwo dipercaya sebagai Ketua Tim Pemenangan Fauzi Bowo-Prijanto sementara saya menjadi Koordinator Kelurahan (Koorkel) Fauzi Bowo Center (FBC) Karang Anyar Sawah Besar Jakarta Pusat.
Dalam perhelatan politik tersebut Bang Uwo menjadikan ajang perjuangan kaum Betawi dan NU berkuasa di Jakarta. Hal ini bisa dimaklumi mengingat Fauzi Bowo adalah Mantan Ketua PWNU DKI Jakarta dan cucu dari H. Abdul Manaf, tokoh Betawi yang memiliki kontribusi besar terhadap NU di Jakarta. Dasar itulah yang membuat NU DKI Jakarta begitu solid mendukung Fauzi Bowo pada Pilkada 2007 terlebih rivalnya pada saat itu adalah Adang Darajatun dan Dani Anwar dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memiliki faham ideologi yang berbeda dengan NU.
            Ketika proses masih berlangsung hampir semua partai mendukung Fauzi Bowo-Prijanto, hanya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang belum menyatakan sikap. PKB awalnya mencalonkan Rano Karno sebagai Cagub DKI Jakarta. Suatu kesempatan Bang Uwo pernah berkata kepada saya bahwa dukungan PKB sangat berarti buat Fauzi Bowo. “Fauzi Bowo itu NU dan harus didukung oleh PKB. Kalau PKB kaga dukung Fauzi Bowo kaya pake baju kaga pake kancing, kaga enak dilihat” Dan pada akhirnya, saat detik terakhir penutupan pendaftaran calon di KPUD DKI Jakarta akhirnya PKB menyerahkan berkas dukungan kepada Fauzi Bowo-Prijanto.
            Perjuangan akhirnya berbuah manis. Berdasarkan penghitungan hasil rekapitulasi suara maka pasangan calon Fauzi Bowo-Prianto memperoleh 57,87 persen suara, sedangkan pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar memperoleh 42,13 persen. Seluruh warga Betawi dan NU bersuka cita karena akhirnya perjuangan menjadikan orang Betawi menjadi Gubernur DKI Jakarta berhasil dengan sukses.
Kendati demikian, fenomena romantis tersebut tidak terulang pada Pilkada 2012. Jika pada Pilkada 2007 NU DKI Jakarta solid mendukung Fauzi Bowo akan tetapi pada Pilkada 2012 NU terbagi dua kubu, kubu structural dan kultural. Jika kubu structural dipersepsikan mendukung Jokowi-Ahok sementara kubu kultural dipersepsikan mendukung Fauzi-Nahrowi.
Bang Uwo sudah menduga bahwa NU akan jadi kendaran politik pilkada 2012. Dengan dukungan arus bawah untuk menyelamatkan NU maka Bang Uwo didaulat untuk dimajukan sebagai calon Ketua NU DKI Jakarta. Dua kandidat yang bertarung saat itu, Bang Uwo dan Djan Farid memiliki kepentingan yang berbeda mengenai Pilkada. Jika Bang Uwo dipersepsikan sebagai tokoh yang mendukung Fauzi Bowo sementara Djan Farid sebaliknya. Kemudian pada akhirnya 4 PCNU memilih Djan Farid menjadi Ketua PWNU sementara Amarullah Asbah dipilih oleh 2 PCNU.
Menyadari bahwa Djan Farid sebagai Ketua PWNU akan membawa gerbong struktur NU DKI Jakarta untuk tidak mendukung Fauzi Bowo maka Bang Uwo membentuk FB Aswaja (Forum Bersama Warga Ahli Sunnah Wal Jama’ah) sebagai wadah berkumpulnya para tokoh dan kader NU cultural yang tetap setia mendukung Fauzi Bowo. Langkah Bang Uwo mendapat dukungan berbagai pihak yang peduli terhadap nasib NU ke depan. Salah satunya adalah saya sendiri yang lebih memilih mundur dari Wakil Sekretaris PWNU DKI Jakarta dibawah komando Djan Farid dan bergabung ke FB Aswaja dibawah komando Bang Uwo dan Sanusi Abu Bakar dan saya menjadi Ketua FBJ (Forum Bersama Jakarta) Sawah Besar sebagai wadah tim pemenangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dalam Pilkada DKI Jakarta 2012.
Sejarah manis tidak terulang, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli kalah dalam perolehan suara. Dalam rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara di tingkat provinsi oleh Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta Jokowi-Basuki meraih 2.472.130 suara atau 53,82 %. Sementara itu, pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli mengantongi 2.120.815 suara atau 46,18 % dari jumlah suara sah.
Kekalahan tersebut tentu saja menyakitkan bagi masyarakat Betawi yang gagal mempertahankan kemenangannya yang telah diraih saat Pilkada 2007 lalu. Kendati demikian, Bang Uwo tetap mengajak kepada semua komponen Betawi berlapang dada menerima hasil pahit dan harus dijadikan bahas intropeksi diri dan evaluasi.

SMS terakhir Bang Uwo.

          Minggu 11/5, saya mendapat sms dari Bang Uwo yang isinya menyampaikan keberatan bang Uwo kepada PKB--Partai tempat saya bergabung—yang akan berkoalisi dengan PDIP dan mendukung Jokowi sebagai Capres 2014. Saya pun menjawabnya agar saya diberi waktu untuk ketemu Bang Uwo membicarakan Pilpres dan Betawi ke depan. Bang Uwo menyanggupi beberapa hari ini akan kumpulkan lagi teman teman bicarakan Pilpres dan membentuk ABJ (Aliansi Betawi Jaya). Namun dua hari berselang bukan sms follow up dari Bang Uwo yang saya dapat justru sms khabar wafatnya Bang Uwo pada Selasa (13/5/2014) sore. Tentu saja khabar ini mengagetkan. Ternyata sms Minggu lalu atau dua hari sebelumnya adalah sms terakhir Bang Uwo kepada saya. Akhirnya saya memforward sms dan broadcast berita duka cita tersebut kepada teman teman. Tentu saja tidak hanya saya yang sedih dan berduka, semua masyarakat Betawi yang mengenal Bang Uwo merasa kehilangan sosok panutan yang selama ini bisa dijadikan ajang curhat, ajang keluh kesah, ajang diskusi dan lain sebagainya.
          Selasa malam di rumah saya sebelum saya ta’ziyah ke rumah duka, saya membuka buku karya saya yang berjudul Ulama Betawi. Dalam halaman terakhir saya membaca komentar singkat Bang uwo tentang buku saya sebagai berikut :

Penghargaan saya kepada adinda Ahmad Fadli HS yang telah menyusun buku ini sebagai karya intelektual. Sangat jarang anak Betawi yang terpanggil untuk menyusun buku seperti yang kita baca sekarang. Mari kita contoh keteladanan para Ulama, pemberi warna kehidupan bagi masyarakat Jakarta khususnya masyarakat Betawi. Teguh dalam beriman, berkarya mulia pada zamannya. Dari zaman ke zaman pula jasa dan pengabdian para ulama tetap dikenang.
Amarullah Asbah (Mantan Anggota DPRD DKI Jakarta & Tokoh Betawi)

Bang Uwo… Insya Allah perjuangan abang akan kami lanjutkan. Semoga amal ibadah abang diterima oleh Allah SWT…. Alfatihah……

Jakarta, Ahad 10 Agustus 2012 jam 2.40


Ahmad Fadli HS

Senin, 13 Mei 2013

MABDA SIYASI PKB


Mabda’ Siyasi (pondasi) politik PKB , berjumlah 9 seperti jumlah bintang yang terdapat di lambang partai. Isi pokok-pokok mabda’ Siyasi PKB yaitu ;

1. Cita-cita Proklamasi Kemerdekaan RI
* mewujudkan bangsa yang merdeka, bersatu, adil, makmur , sejahtera, bermartabat dan sederajat dengan bangsa lain di dunia serta pemerintahan NKRI

2. Cita-cita PKB tentang Bangsa
Bangsa yang dicita-citakan PKB adalah bangsa yang :
- Terjamin HAM
- Dapat dipercaya setia dan tepat janji
- Mampu memecahkan masalah sosial yang dihadapi
- Bersikap dan bertindak secara adil dalam segala hal
- Suka tolong menolong dalam kebijakan
- Konsisten menjalankan yang telah disepakati bersama
- Menegakan prinsip musyawarah
- Meletakan persamaan derajat di depan hokum

3. Misi utama dan Pilihan pendekatan
Mewujudkan tatanan masyarakat yang beradab sejahtera lahir dan batin bagi setip warga negara. Pola pendekatan yang dilakukan adalah amar ma’ruf nahi munkar. Ciri-ciri masyarakat yang beradap yaitu terpelihar jiwa raga, terpenuhi kemerdekaan dan terpenuhinya hak-hak dasar manusia.

4. Kekuasaan sebagai alat Perjuangan
Fakta menunjukan, selama masa orde baru , kaum NU seakan anak yang tidak diinginkan. Guru ngaji diawasi, mengisi pengajian harus lapor polisi dan masah banyak lainnya. Akan tetapi, sewaktu Gusdur menjadi Presiden , semua orang tiba-tiba mengaku NU, mengelu-elukan NU dan bangkitlah martabat warga NU.

5. Kekuasaan sebagai Amanah Allah
Kekuasan memang melenakan , sperti Fir’aun yang mengaku Tuhan karena berkuasa yang begitu lama. Dalam Al-Qur’an Allah Berfirman “sungguh manusia akan menjadi semena-mena manakala merasa dirinya berkuasa”. Firman lainnya Allah mengatakan “katakan(wahai Muhammad) Allah-lah Maha raja-raja, yang memberikan kekuasaan kepada orang yang dikehendaki dan mencabut kekuasaan dari orang yang dikehendaki”.
Atas dasar itulah PKB memandang bahwa kekuasaan adalah amanat Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkan kelak dihadapn-NYA.

6. Kekuasaan untuk Rakyat
Sesuai slogan demokrasi dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, dan seharusnya kekuasaan digunakan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan dan kemakmuran rakyat. Agar kekuasaan bisa dikontrol, maka harus dibatasi dan dijalankan seuai institusional.

7. Pancasila sebagai Asas dan Ukhuwah sebagai Jiwa Perjuangan
Mengapa Pancasila bukan Islam yang menjadi asas??
Karena kita hidup di NKRI dengan beragam suku, ras, agama, budaya. Hal ini yang dijadikan dasar oleh para Founding Fathers untuk merumuskan Pancasila sebagai Dasar Negara RI.
Dalam sejarah ada pemaksaan Islam menjadi dasar negara melalui ‘Piagam Jakarta’ dalam sile pertama (Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) hal tersebut justru mengancam perpecahan dimana-mana. Dari sisi agama akan ada reaksi keras dari non-muslim. Atas dasar ini dalam tradisi NU ada 3 konsep untuk menjalin hubungan antar warga ; mengembangkan tali persaudaraan antar sesama dengan ikatan keagamaan (ukhuwah diniyah), kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) dan kemanusian (ukhuwah insaniyah).

8. Partai Politik bercorak Humanisme Religius
Ada 3 komunikasi yang melingkupi manusia dalam kehidupannya ; hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan alam. Politik bagian dari hubungan manusia dengan sesama manusia(insaniyah). Dengan prinsip Insaniyah, PKB menegaskan bahwa dalam setiap mengambil kebijakan maupun langkah politik berlandasan nilai-nilai Islam.

9. PKB sebagai Partai Terbuka dan Independen
Menjunjung tinggi ke-Bhineka Tunggal Ika-an masyarakat Indonesia , PKB membuka seluas-luasnya bagi berbagai kalangan untuk bergabung menjadi kader PKB serta membesarkannya tanpa harus membedakan suku, bahasa, agama dan budaya. Independen disini bukan berarti siapa saja boleh intervensi dan mengatur seenaknya, hanya orang PKB-lah yang berhak mengatur PKB.

#sumber dari : Pelatihan bagi Kader Militan PKB ; Andi M. Ramly

Rabu, 01 Juni 2011

KH. ABDUL HANNAN SA’ID (1923-2000) Ulama Tajwid Dari Sawah Besar


            KH. Abdul Hannan Sa’id bin H. Sa’id bin Kasiman bin Qadim lahir di Serang Banten pada 04 April 1923. Ia memulai pendidikan formalnya di sekolah dasar pada usia 8 tahun dan selesai pada tahun 1936. Dalam bidang agama Hanan Sa’id belajar kepada KH. Tb. Sholeh Makmun di Pesantren Qur’an Lontar Serang Banten hingga khatam 30 juz selama 9 tahun.
            Di Usia 19 tahun, atau tahun 1942 ia mulai mengajar di Madrasah Al-Ihsaniyah Serang Banten. Pada tahun 1950 ia pindah ke Tambun Bekasi dan mengajar di Madrasah An-Nasyi’ah. Di Tambun Bekasi, ia menikah dengan Siti Nurjanah binti Akhir pada 15 November 1950 dan dikaruniai 5 orang putra. Pada 7 Agustus 1975 istrinya, Siti Nurjanah wafat kemudian Hannan Sa’id menikah kembali pada 12 November 1975 dengan Siti Umayyah binti H. Nalim, perempuan Betawi Kampung Baru Sukabumi Udik (Selatan) Jakarta Barat dan mendapat keturunan 3 orang putra dan 2 orang putri. Penulis adalah anak kedua dari pernikahan Hanan Sa’id dengan Siti Umayyah.
            Setahun kemudian, 1951. Hannan Sa’id pindah ke Jakarta dan mendirikan Ma’had Ta’lim Qur’an dan Kepala Madrasah Manhalun Nasyi-in di Karang Anyar Sawah Besar Jakarta Pusat di atas tanah wakaf Ahmad bin Maih. Selain pengasuh di Ma’had dan Madrasah tersebut, ia pengajar agama di beberapa tempat seperti di Corp Cacat Veteran, di perkumpulan anggota polisi Seksi III Pasar Baru, beberapa tempat di Sawah Besar Jakarta Pusat dan tempat lainnya di Jakarta hingga akhir hayatnya.
            Pada tahun 1959, ia dinyatakan lulus ujian sebagai Guru Agama dan mendapatkan status sebagai Pegawai Negeri Sipil. Pada tahun 1961 ia menjadi Kepala Kantor Penerangan Agama Daerah Tingkat II Jakarta Utara kemudian diangkat sebagai Kepala Dinas Penerangan Agama Jakarta Barat pada tahun 1968 kemudian menjadi Kepala Inspeksi Penerangan Agama Jakarta Pusat pada tahun 1973 hingga pensiun pada tahun 1979.
            Pada tahun 1973. Hannan Sa’id menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Siti Nurjanah dan sepulang dari ibadah haji kegiatan mengajarnya semakin padat. KH. Abdul Hannan Sa’id di samping seorang guru, dosen di Perguruan Tinggi Darul Hikmah Jakarta Utara,  juga aktif di LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) DKI Jakarta sebagai seorang pembina, juri atau dewan hakim di MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) dan MHQ (Musabaqah Hifdzil Qur’an), penulis dan mubaligh. Ia bersedia hadir walau hanya untuk menjadi juri MTQ dengan peserta usia taman kanak-kanak dan remaja. Bahkan, ia pernah menjadi Ketua Dewan Hakim MTQ antar waria yang diadakan di Sasana Langen Budaya TMII Jakarta Timur pada 15 Desember 1990. Bidang dakwahnya semakin luas ketika ia diminta menjadi anggota Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an, Departemen Agama RI dari tahun 1993 sampai ia wafat pada tahun 2000.
            Semasa hidupnya, KH. Abdul Hannan Sa’id pernah menjadi ketua atau koordinator dewan hakim MTQ dan MHQ sebanyak 150 kali terhitung tahun 1953 hingga 1993. Jika ditambah dengan posisinya sebagai anggota Dewan Hakim MTQ atau MHQ baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional maka sebanyak 255 kali mulai tahun 1953 hingga 1999. Ia juga sebagai Pembina bagi Qori/Qoriah dan Hafidz/Hafidzah bagi duta DKI Jakarta untuk MTQ dan MHQ Nasional dari tahun 1962 hingga 1999.
            Dari kegiatannya mengajarkan ilmu tajwid dan qira’at al-qur’an banyak murid-murid KH. Abdul Hannan Sa’id yang kelak menjadi Qori Nasional dan Ulama terkemuka. Di antaranya, H. Muammar ZA, H. Muhajir, H. Nanang Qosim, H. Muhammad Ali, H. Muhammad Dong, H. Nafis Qurthubi, Hj. Sa’idah Ahmad, Dra. Hj. Maria Ulfah, KH. Abdurrahman Nawi (Pengasuh Pesantren Al-Awabin Depok), KH. Tajudin Hasan (Pengasuh Pesantren Darul Hasan Cipondoh Tangerang) H. Mafakhir Rawa Belong, KH. Hasan Bisri, KH. Muhammad Ali Samman (Perguruan Islam Manhalun Nasyi-in Sawah Besar), KH. Ibrahim Karim (Yayasan Hubbul Wathon Cempaka Putih/MUI DKI Jakarta), KH. Syahid (Bandung), H. Humaidi (Banten), Hj. Ery Murniasih (Kuningan Jawa Barat), Hj. Siti Sarah (Sukabumi), Hj. Tatu Mulyana (Ibu Ustadz Jefri Al-Bukhory), H. Abdul Wadud K.A, H. Syarifuudin Muhammad, dan lain sebagainya.
            Dengan ulama-ulama Betawi, KH. Abdul Hannan Sa’id memiliki kedekatan dengan KH. Abdullah Syafi’i, KH. Mursyidi, KH. Abdul Rasyid bin H. Kirom Madrasah Ar-Rusyda Klender, KH. Syafi’i Hadzami, KH. Muhammad Radjiun dan KH. Rahmatullah Shidiq. Mereka saling bersilaturahim dan bertukar pikiran tentang disiplin ilmu yang mereka kuasai masing-masing.
            Salah satu sumbangan pemikiran KH. Abdul Hannan Sa’id yang sangat penting dan menjadi kontroversi di kalangan ahli tajwid adalah penemuannya tentang qalqalah akbar. Sebagaimana diketahui bahwa qalqalah di dalam ilmu tajwid ada dua, yaitu qalqalah shugra dan qalqalah kubra. Sementara KH. Abdul Hannan Sa’id berpendapat bahwa qalqalah ada tiga dengan ditambah qalqalah akbar. Qalqalah yang lebih daripada qalqalah kubra. Qalqalah akbar misalnya dapat ditemukan pada pengucapan watabb di QS. Al Lahab.
            Semasa hidupnya, KH. Abdul Hannan Sa’id menulis 6 (enam) kitab yaitu  Taysîr al-Musykilāt fi Qirā’ah al-Âyāt, Miftâh at Tajwîd juz I dan II, al-Masâ’il at-Tajwîdiyyah Juz I dan II, pegangan khatib, risalah pegangan pelatih qori/qariah, dan al-Asytât fi al Hikâmi wa al-fawa’id wa al-Maqâlât.
            Kitab Taysîr al-Musykilāt fi Qirā’ah al-Âyāt merupakan karya masterpiece dari KH. Abdul Hannan Sa’id dan merupakan buah dari ketekunannya selama puluhan tahun karena isinya berasal dari catatan-catatan yang ditulisnya sebagai pelatih ketika para qari dan qariah serta hafidz dan hafidzah menemukan kesukaran dalam mengucapkan huruf atau ayat tertentu di dalam al-qur’an menurut riwayat Imam Hafs. Kesukaran tersebut dialami ketika mereka mengikuti tiap-tiap training centre (pemusatan pelatihan) untuk mengikuti even MTQ Nasional pada tahun 1968 hingga pada tahun 1991.
            KH. Abdul Hannan Sa’id wafat pada hari Jumat, 19 Dzulqo’dah 1420 H atau 25 Februari 2000 di kediamannya di Jl. Dwiwarna II Karang Anyar Sawah Besar Jakarta Pusat dan dimakamkan berdekatan dengan makam istrinya Hj. Siti Umayyah di Pemakaman Kampung Baru Sukabumi Udik (Selatan) Kebon Jeruk Jakarta Barat.
            Pada 03 Januari 2003, Almarhum KH. Abdul Hannan Sa’id mendapat piagam penghargaan selaku Ulama Qur’an dan Hamalatul Qur’an dari Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Sayyid Aqil Munawar, MA. Almarhum KH. Abdul Hannan Sa’id walaupun dilahirkan di Serang Banten tetapi mendapat tempat di kalangan masyarakat Betawi karena dua istrinya orang Betawi dan hampir 50 tahun menetap dan mengajar ilmu tajwid sampai wafatnya di Betawi sehingga MUI Jakarta, KODI dan Jakarta Islamic Centre (JIC) memasukkan KH. Abdul Hannan Sa’id dalam Seri Ulama Betawi (1) yang dimuat dalam Tabloid Republika, Dialog Jumat, 23 Februari 2007 dan buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi yang diterbitkan oleh Jakarta Islamic Centre (JIC) pada September 2009 serta buku Islam Ibukota dari Kramtung hingga ke Brussels yang diterbitkan oleh Jakarta Islamic Centre (JIC) pada Desember 2009.

SUMBER :

Judul Buku:
ULAMA BETAWI
(Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20).

Penulis: Ahmad Fadli HS

Penerbit: Manhalun Nasyi-in Press, Jakarta, 2011

ISBN:
978-602-98466-1-4



H. MUHAMMAD ARIF/H. DARIP (1886-1981) Panglima Perang Dari Klender



            H. Muhammad Arif atau biasa dipanggil H. Darip dilahirkan di Klender pada tahun 1886 dari pasangan H. Kurdin dan Hj. Nyai. Ia anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia tidak menempuh pendidikan formal membaca dan menulis. Pelajaran membaca dan menulis huruf latin justru diperolehnya saat dipenjara dan belajar dari temannya. Dalam belajar agama, tidak diketahui kepada siapa H. Darip belajar agama akan tetapi ada kemungkinan ia belajar agama langsung kepada ayahnya.
            Pada tahun 1914 ia pergi haji ke Makkah dan langsung menetap di sana untuk memperdalam ilmu agama hingga kurang lebih dua tahun setengah (1916). Pulang dari Mekah, H. Darip mengawali perjuangannya dengan berdakwah di sebuah mushalla kecil, yang kini menjadi Masjid Al-Makmur yang cukup megah di Klender dan berjuang bersama para ulama lain, yakni KH Mursyidi dan KH Hasbiallah. Selain dikenal sebagai da’i, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Ia adalah seorang tokoh yang disegani masyarakat, daerah kekuasaannya mencakup Klender, Pulogadung, Jatinegara hingga sampai Bekasi. 
            Pada saat terjadi revolusi fisik melawan Jepang dan Belanda, H. Darip membentuk BARA (Barisan Rakyat). Ia mengumpulkan para tokoh, pemuda dan jagoan yang tersebar di Klender dan sekitarnya. Di antara mereka yang ikut bergabung adalah H. Hasbullah (Kakak dari KH. Hasbiyallah) dan KH. Mursyidi. Mereka terlibat dalam pertempuran di beberapa front di kota Jakarta. H. Darip sendiri saat itu dijuluki "Panglima Perang dari Klender". Sebuah brosur dari Angkatan 45 DKI tanggal 17 Agustus 1985—empat tahun setelah Haji Darip meninggal dunia—menyebutkan, H. Darip pada zaman penjajahan Belanda (sebelum perang dunia kedua), berjuang bersama Soekarno bergerak di bawah tanah, terutama di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
            Ketika pendudukan Jepang, menyaksikan kekejaman pasukan Dai Nippon ini, H. Darip memimpin masyarakat di Klender dan menghimpun para jawara, narapidana dan napi Rutan Cipinang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Sewaktu dia masih memimpin pergerakan dari Klender, banyak para pemimpin yang datang bahkan menginap di kediamannya, di antaranya  Soekarni, tokoh Murba, Kamaludin, Syamsuddin orang Padang, dan Pandu Kartawiguna. Mereka menginap di rumah H. Darip dan menyatakan kepadanya bahwa sebentar lagi Indonesia akan merdeka dan mereka membicarakan pengusiran orang Jepang.
            Anak buah H. Darip yang tergabung dalam BARA dimandikan oleh H. Darip kemudian diisi badannya dengan ilmu kebal lalu dicoba dengan dibacok badannya dengan golok. Setelah dirasa memiliki ilmu kebal maka pasukan BARA diperbolehkan untuk berjuang mengusir Jepang. H. Darip memerintahkan anak buahnya untuk menyerbu dan mengusir tentara Jepang di Pangkalan Jati, Pondok Gede, Cipinang Cempedak, sepanjang Kali Cipinang dan lain-lain. Anak buah H. Darip bahkan sampai membunuh tentara Jepang. Hal tersebut dilakukan oleh anak buah H. Darip karena jika tentara Jepang tidak dibunuh maka anak buah H. Darip yang terbunuh karena tentara Jepang mempunyai senjata api sedang anak buah H. Darip hanya mempunyai kekuatan fisik dan golok saja. Beberapa sumur di Klender dan sekitarnya tidak ada yang mau minum airnya karena penuh dengan bangkai tentara Jepang, begitupula dengan sungai Sunter yang dipenuhi dengan mayat tentara Jepang.
            Setelah berhasil mengerahkan rakyat yang dihimpun dan dipimpinnya untuk menghabiskan tentara Jepang yang bertugas di pinggiran, maka H. Darip menyadari bahwa kekuatan rakyat tidak akan berarti jika tidak dilengkapi dengan peralatan senjata, logistik dan persediaan makanan. Kira-kira seminggu sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, H. Darip mendatangi Camat Klender dan meminta segala pakaian rakyat yang akan dibagikan jangan dikeluarkan sebelum saatnya tiba dan menunggu komando darinya.
            H. Darip juga mendatangi kantor polisi yang masih di bawah kekuasaan Jepang. Ia meminta supaya senjata-senjata yang ada di kantor polisi jangan diserahkan kepada Jepang, melainkan harus diserahkan kepada rakyat nanti. Lalu H. Darip menyuruh komandan polisi membuat pernyataan dan membubuhkan tanda tangannya untuk menyerahkan senjata kepada rakyat. Kemudian H. Darip pergi ke Seksi Tujuh. Ia bertemu dengan Darmatin dan Juhra anak Banten dan Sukahar dan meminta kepada mereka agar persenjataan yang ada di sana diserahkan kepada rakyat. Kemudian H. Darip menuju penjara Cipinang. Direkturnya diberi tahu hal yang sama dengan apa yang dikatakan pada Camat, Kepala polisi maupun Komandan Seksi VII. Pada saatnya pula nanti H. Darip meminta agar para tahanan dilepaskan. Ia juga datang ke Seksi V dan melakukan hal yang sama.
            Hari Proklamasi makin dekat dan keadaan makin panas saja. Tetapi dia telah mempersiapkan anak buahnya. Dia juga mendatangi gudang-gudang beras di Klender untuk memblokir beras yang ada jangan sampai keluar dari Klender. Maka jadilah Klender wilayah pertahanan yang merupakan gudang makanan dan persenjataan ala kadarnya.
            H. Darip mempersiapkan hal tersebut di atas setelah mendapat informasi dari Soekarni bahwa Indonesia sebentar lagi akan merdeka. Informasi itu diperoleh ketika terjadi serangan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945 oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman. Setelah pengeboman tersebut maka pada 15 Agustus, Jepang mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Berita ini diketahui oleh kalangan pemuda bangsa Indonesia melalui berita siaran radio BBC (British Broadcasting Corporation) London. Pada saat yang sama Soekarno dan Hatta baru kembali ke tanah air memenuhi panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara, Marsekal Terauchi di Saigon, Vietnam.
            Saat kembali ke tanah air, Soekarno ditemui para pemuda untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, Soekarno dan Hatta "diculik" dan dibawa ke Rengasdengklok, Karawang oleh para pemuda di antaranya Soekarni, Chaerul Saleh dan lain-lain. Dalam peristiwa Rengasdengklok itu, H. Darip menjadi saksi hidup ketika para pemuda mendesak Soekarno Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
          Kemudian Soekarno Hatta ditempatkan di suatu rumah yang tidak layak di pinggir kali. Lalu H. Darip meminta kepada Soekarni dan kawan-kawannya agar Soekarno Hatta di tempatkan di rumah yang layak karena Soekarno Hatta adalah calon pemimpin yang harus dihormati. Atas permintaan H. Darip maka Soekarni dan kawan-kawan menempatkan Soekarno Hatta di rumah perkampungan milik warga Tionghoa, Djiaw Kie Siong.
          Pada waktu itu Soekarno dan Hatta menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain itu, hal tersebut dilakukan agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Para golongan pemuda khawatir  apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang.
          Setelah melalui perundingan yang panjang akhirnya disepakati bahwa proklamasi kemerdekaan dilaksanakan pada 17 Agustus di Jakarta kemudian bendera Merah Putih dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Rabu tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.
            Pada akhirnya, tepatnya hari Jumat, 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan 09 Ramadlan 1364 H, Soekarno dan Muhammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Proklamasi kemerdekaan tersebut disambut suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia, tak ketinggalan rakyat yang berada di Klender dan sekitarnya. Setelah proklamasi kemerdekaan, Soekarno berkunjung ke Klender dan memimpin rapat akbar di sana serta meminta rakyat Klender ikut membantu mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
            Selanjutnya H. Darip memerintahkan rumah-rumah di Klender menaikkan bendera merah putih. Pabrik-pabrik di Klender, Cipinang, Jatinegara dan lain-lain diperintahkan mengganti bendera Jepang dengan merah putih. H. Darip juga meminta agar pabrik tidak mengeluarkan beras kecuali untuk makan laskar rakyat. Setelah berhasil menghimpun senjata, makanan dan pakaian, H. Darip memerintahkan anak buahnya untuk menjaga ketat wilayah Klender agar tidak dimasuki tentara Jepang atau mata-mata Jepang.
            Setelah Jepang menyerah dan kembali ke negerinya, Belanda dan tentara sekutu berusaha kembali menjajah Bangsa Indonesia. H. Darip bersama pasukan BARA bersiap-siap untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang diamanatkan oleh Soekarno saat rapat akbar di Klender.
            Pada suatu penyerangan, Klender berhasil diduduki Belanda dan sekutu sehingga H. Darip dan pasukan BARA hijrah ke beberapa tempat seperti Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Bekasi, Cikampek, Karawang hingga ke Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya. Dari tempat persembunyiannya—dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler—ia bermarkas di Purwakarta dan menyusun strategi melawan NICA Belanda.
            Suatu ketika benteng pertahanan di Purwakarta diserang oleh Belanda melalui hujan bom dan peluru dari udara dan darat sehingga H. Darip dan pasukannya harus mengungsi ke hutan. Perjalanan ke hutan sangat memprihatinkan, terlebih di antara 4 (empat) isteri H. Darip ada yang sedang hamil dan ada yang mempunyai bayi yang masih kecil. Mereka harus turun naik bukit, menyebrang sungai dan menahan lapar dan dahaga. Jika rasa lapar dan dahaga tidak tertahankan mereka singgah ke rumah penduduk setempat untuk meminta makanan dan minuman. Di kemudian hari untuk keselamatan anak dan isteri-isterinya, H. Darip mengirimkan mereka ke Klender dan berpesan agar tidak memberitahukan kepada siapapun tentang posisi H. Darip dan pasukannya.  
            Pada saat memasuki bulan puasa, H. Darip dan pasukannya tetap berpuasa dan berjuang melawan Belanda. Mereka dari Parakan Lima menuju hutan Cempaka, hutan Bendul, Kembang Kuning dan Cibatu. Di hutan Cempaka H. Darip menghimpun kekuatan dan mengatur strategi untuk menyerang musuh. Pertahanan Belanda di Purwakarta kerapkali dibuat panik oleh serangan mendadak yang tidak terduga di malam hari atau menjelang subuh hingga suatu ketika Jayusman, anak buah H. Darip yang berasal dari Banten tertangkap. Ia ditembak tetapi tidak mempan dan akhirnya ia tewas setelah dipulir kepalanya.
            Belanda berusaha keras untuk menangkap H. Darip akan tetapi usaha itu sia-sia. Bahkan Belanda menjanjikan hadiah besar bagi orang yang bisa menangkap H. Darip. Pada akhirnya Belanda mengirim mata-mata untuk bergabung dan menjadi anak buah H. Darip. Tersebutlah Jami dan Sarosa yang menjebak dan membujuk H. Darip agar pergi ke Jogjakarta untuk kembali dekat dengan Soekarno. Sejak Januari 1946 Ibukota memang pindah dari Jakarta ke Jogjakarta.
            Sarosa berangkat mendahului. Kemudian menyusul H. Darip, Jami dan Entong, anak perawat kuda yang berumur 13 tahun. Ketika malam hari melewati hutan Jati, Sadang Purwakarta H. Darip disergap Belanda. H. Darip diikat erat dengan kabel listrik dan dibawa memakai mobil Jeep. Jami tidak terlihat ditangkap. Akhirnya ia menyadari bahwa ia dijebak dan dikhianati oleh Jami. Dari Sadang H. Darip dibawa ke Jakarta kemudian dimasukkan ke sel Polisi I Kebayoran selama tiga hari lalu dipindah ke Ancol.  Dalam kondisi tetap diikat dengan kabel listrik, H. Darip disiksa dengan gagang senapan dan dipukul bertubi-tubi sampai akhirnya H. Darip dijebloskan ke tahanan Glodok, Jakarta Kota (kini merupakan bagian dari pertokoan Harco) pada tahun 1948.
            Berita tertangkapnya H. Darip sampai ke anak buahnya. Mereka sangat marah ternyata pimpinannya tertangkap karena dijebak dan dikhianati oleh Jami. Kemudian anak buahnya mencari-cari Jami hingga akhirnya Jami ditangkap dan tewas dibunuh oleh anak buah H. Darip yang setia.      
            Pada akhir tahun 1949 H. Darip menulis surat kepada Soekarno agar ia dibebaskan dari penjara. Konon surat tersebut diterima oleh Fatmawati, istri Soekarno di Istana Negara. Tetapi Soekarno tidak bisa membebaskan H. Darip. Setelah penyerahan kedaulatan pada akhir Desember 1949, H. Darip akhirnya dibebaskan dari penjara. Para anak buahnya yang hampir 100 orang menyambut H. Darip di luar penjara dan membawa ke rumah Ghozali di Kebon Jahe kemudian ke Klender. Rumahnya di Klender sudah habis dibakar oleh Belanda saat ia di penjara. Lalu bersama-sama anak buahnya dan rakyat Klender secara gotong royong membuat rumah sederhana untuk H. Darip.
            Pada Mei atau Juni 1950 H. Darip dipanggil Soekarno ke Istana Cipanas. Ia dijemput oleh Letnan Ishaq Latief. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Hamengkubuwono. Soekarno menyambut dan memeluk H. Darip sambil menangis. Soekarno lalu menjelaskan surat H. Darip yang dikirimkan untuknya. Soekarno merasa yakin bahwa H. Darip akan bebas dan tidak akan mati di penjara.
            Pada tahun 1950 ketika keamanan Jakarta belum sepenuhnya stabil, foto H. Darip terjual habis. Masyarakat Jakarta, khususnya Klender dan terutama keturunan Cina akan merasa aman jika rumahnya terpampang foto H. Darip. Para pencoleng dan gerombolan penjahat tidak akan menggangu rumah atau toko yang terpampang foto H. Darip.
            H. Darip adalah rakyat biasa yang kemudian memimpin rakyat untuk melawan dan mengusir penjajah. Ia memiliki wibawa sehingga bisa menggerakan api semangat perlawanan terhadap penjajah. Ia juga berjuang tanpa pamrih sehingga ia tidak memperdulikan gelar veteran dan pahlawan. Di akhir masa hidupnya, ia menghabiskan waktu untuk berdakwah di Klender dan sekitarnya untuk mengamalkan ilmu yang ia dapat saat belajar di Makkah.
            H. Darip meninggal di Jakarta pada 13 Juni 1981 dan dimakamkan di Pemakaman Wakaf Ar-Rahman Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung Jakarta Timur bersebelahan dengan makam salah satu istrinya, Hj. Hamidah.

SUMBER :

Judul Buku:
ULAMA BETAWI
(Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20).

Penulis: Ahmad Fadli HS

Penerbit: Manhalun Nasyi-in Press, Jakarta, 2011

ISBN:
978-602-98466-1-4