Selasa, 10 Februari 2015

KH. ABDUL MUGNI (Guru Mugni Kuningan) 1860-1935



          

   Tokoh yang sering disebut Guru Mugni ini terhitung ulama yang paling terkemuka di wilayah Selatan. Nama lengkap Guru Mugni adalah Abdul Mugni bin Sanusi bin Ayyub bin Qays. Dia lahir pada tahun 1860 di daerah Kuningan Jakarta Selatan dari pasangan H. Sanusi bin Ayyub dan Hj. Da’iyah binti Jeran.
            Ia pertama kali belajar agama kepada ayahnya H. Sanusi bin Qais di masjid Mubarok, Kuningan. Sesudah itu ia belajar kepada seorang Guru mengaji bernama H. Jabir kemudian meneruskan belajar kepada Sayyid Usman bin Yahya yang digelarinya “Mufti Betawi”. Dalam usia 18 tahun, ia dikirim ayahnya menuntut ilmu di Makkah dan bermukim di sana selama 9 tahun, Di sana ia berguru kepada banyak ulama, antara lain Syaikh Sa’id al-Babasor, Syaikh Mukhtar Atharid, Syaikh Umar Bajunaid al-Hadrami, Syaikh Sa’id al-Yamani, Syaikh Muhammad Ali-Al-Maliki, Syaikh Abdul Karim Al-Dagestani, Syaikh Mahfud At-Tremasi dan Syaikh Muhammad Umar Syatho, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan lain-lain.
            Sesudah kembali ke tanah air, Guru Mugni mulai mengajar di rumahnya sendiri dan di masjid untuk beberapa waktu sebelum kembali lagi ke Makkah dan bermukim untuk kedua kalinya selama lima tahun. Selama di tanah suci, ia berteman dengan sejumlah orang Betawi yang kelak juga menjadi ulama besar, seperti KH Marzuki (Guru Marzuki). Hubungan pertemanannya dengan Guru Marzuki agaknya memiliki keistimewaan tersendiri, karena gurunya bernama Muhammad Umar Syatha itu dikenal sebagai mursyid tarekat Al-Alawiyah yang memberikan ijazah tarekatnya kepada Guru Marzuki, sedangkan Guru Mugni sendiri tampaknya tidak memberi perhatian khusus kepada tarekat. Ilmu fiqih, tauhid, tafsir, hadist, dan beberapa cabang ilmu bahasa Arab merupakan ilmu yang ia ajarkan kepada beberapa muridnya.
            Hubungan pertemanan Guru Mugni dengan Guru Marzuqi berlanjut kepada kekeluargaan melalui jalur pernikahan. Putra Guru Mughni, KH. Ali Sibromalisi menikah dengan Hj. Syaikhoh, putri Guru Marzuqi. Melalui jalur pernikahan inilah anak cucu mereka berdua tetap bisa bersilaturahim dan bertukar ilmu pengetahuan.
            Guru Mugni menolak pekerjaan sebagai Penghulu Kepala yang ditawarkan kepadanya—seperti umumnya ulama Betawi—karena alasan kebangsaan, tidak ingin bekerjasama dengan penjajah. Selain itu, ia juga dikenal sangat kaya sehingga untuk mengurusi kekayaan itu ia sengaja menyewa pengacara yang bernama Muhammad Nafis. Secara ekonomi Guru Mugni tidak mempunyai masalah oleh sebab itu bisa dipahami bila ia menolak pekerjaan yang ditawarkan pemerintah. Bahkan sebagian hartanya disumbangkan untuk membiayai kegiatan dakwah Islam dan juga untuk membantu masyarakat Kuningan yang memerlukan bantuan modal untuk berdagang atau mengembangkan usaha mereka. Bahkan ketika Guru Mugni bermukim di Makkah, ia kerapkali memberikan bantuan pinjaman kemah-kemah kepada jama’ah haji Indonesia. Sementera rumahnya sendiri yang berada di Makkah dijadikan wakaf tinggal para pelajar Indonesia yang bermukim di sana. Hal itu menunjukkan sifat sosial dan dermawan Guru Mugni yang lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada dirinya, terutama dalam membela tanah air. Ketika terjadi revolusi fisik melawan penjajah, ia mengizinkan rumahnya yang terletak di Jl Mas Masur 38 Tanah Abang dijadikan tempat pertemuan tokoh-tokoh perkumpulan Yong Islamiten Bond oleh KH. Agus Salim.
            Perlawanan Guru Mugni terhadap Belanda juga dilakukan ketika hendak membangun masjid Baitul Mugni. Saat itu Guru Mugni meminta rekomendasi kepada pemerintah Belanda untuk membangun masjid tetapi Belanda—atas pertimbangan Snouck Hurgronje—tidak mengeluarkan rekomendasi. Guru Mugni tetap melaksanakan pembangunan masjid Baitul Mugni pada tahun 1901 dengan biaya sendiri dan di atas tanahnya sendiri.
            Pada tahun 1926, Guru Mugni mendirikan madrasah Sa’adatud Dârain yang merupakan satu-satunya madrasah yang ada di wilayah Kuningan pada saat itu. Menurut putra Guru Mugni, KH. Hasan Basri, bangunan madrasah ini semula merupakan rumah kediaman ayahnya. Ketika madrasah sudah didirikan, pengelolaannya diserahkan kepada kedua puteranya KH. Syahrowardi dan KH. Rahmatullah dan dibantu menantunya, H. Mahfudz dan H.M Toha. Guru Mugni sendiri hanya sebagai pengawas dan pembina.
            Dalam hal pendidikan, ia menerapkan aturan yang ketat kepada keluarganya. Tidak ada satupun anaknya diperbolehkan di sekolah umum milik Belanda. Ini merupakan bentuk perlawanan Guru Mugni yang non koperatif kepada pemerintahan kolonial. Kendati demikian bukan berarti ia anti ilmu umum. Ia memanggil guru-guru umum untuk mengajarkan anak-anaknya secara private. Hasil didikannya terbukti berhasil, banyak anak cucu keturunannya menjadi ulama-ulama besar yang kelak meneruskan perjuangannya, seperti KH. Ahmad Mawardi, KH. Syahrowardi, KH. Ali Syibramalisi, KH. Abdul Aziz Abdullah Suhaimi dan lain-lain.
            Selama hidupnya Guru Mugni menulis dua buah karya, di antaranya adalah Taudhîh al-Dalâ’il fî Tarjamati Hadist al-Syâmil dan Naqlah Min ‘Ibârat al-Ulama Nasihat Mawâ’izah li Awlad al-Zamân Fî Adab Qirô’at al-Qur’ân wa Ta’limih.
            Di antara muridnya yang mengikuti jejak sang guru berdakwah adalah Guru Abdul Rahman Pondok Pinang, KH Hamim dari Lenteng Agung, Guru Na’im dari Cipete, KH Hamim dan KH Rasain juga dari Cipete, Guru Ilyas dari Karet dan Guru Ismail Pedurenan (dipanggil Guru Mael, mertua KH Ahmad Junaidi Menteng Atas)
            Guru Mugni wafat pada hari Kamis, 5 Jumadil Awal 1354 H/1935 M. Shalat jenazah baru dilaksanakan pada hari Jum’at yang dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi. Jenazahnya dimakamkan di pekuburan keluarga di Mushola Al-Mizan/Langgar Tanjung, Jalan Mega Kuningan Barat Blok E, 33 Kuningan Timur Jakarta Selatan, berdekatan dengan Kedutaan Besar Republik Islam Pakistan.

SUMBER :

Judul Buku:
ULAMA BETAWI
(Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20).
Penulis: Ahmad Fadli HS
Penerbit: Manhalun Nasyi-in Press, Jakarta, 2011
ISBN978-602-98466-1-4

Rabu, 04 Februari 2015

SYAIKH ABDURRAHMAN AL-MASHRI AL-BATAWI


            Pada abad ke-18 dan 19 sudah banyak orang Betawi yang melakukan ibadah haji ke Mekkah. Jumlah jama’ah haji dari Betawi cukup besar jumlahnya di antara seluruh jama’ah haji yang datang dari Jawa. Tidak sedikit di antara jama’ah haji itu yang akhirnya bermukim dan belajar bertahun-tahun di Makkah dan bahkan ada yang wafat di sana. Jama’ah haji yang bermukim di Makkah memakai nama famili yang mengacu kepada daerah asalnya, seperti Al-Minangkabawi (Minangkabau), Al-Singkili (Singkel), Al-Jawi (Jawa), Al-Bantani (Banten) dan Al-Batawi (Betawi).
            Di antara orang Betawi yang bermukim di Makkah adalah Abdurahman Al-Mashri Al-Batawi, teman karib Abdul Shamad Al-Palimbani dari Sumatera Selatan (1116/1704-1203/1789) dan  Muhammad Arsyad Al-Banjari (1122/1227-1710/1812) dari Kalimantan Selatan. Kendati informasi mengenai Abdurahman Al-Mashri Al-Batawi ini sangat minim, tetapi peran dan kiprahnya menunjukkan bahwa dia terlibat aktif secara sosial maupun intelektual dalam jaringan ulama terpenting di Nusantara pada abad ke-18.
            Sebelum kembali ke Betawi, karena merasa belum mendapat pengetahuan yang memadai, Abdurahman Al-Batawi bersama dengan Muhammad Arsyad dan Abdul Shamad meminta idzin kepada gurunya, ‘Atha’ Allah Al-Mashri  untuk menambah pengetahuan di Kairo. Kendati menghargai niat baik mereka, ‘Atha’ Allah menyarankan agar mereka lebih baik kembali ke Nusantara sebab mereka sudah dianggap memiliki pengetahuan yang lebih dari cukup dan dapat mereka manfaatkan untuk mengajar di tanah air mereka. Mereka tetap memutuskan pergi ke Kairo tetapi hanya untuk berkunjung bukan untuk belajar. Mungkin sebagai tanda hubungan baik mereka dengan ‘Atha’ Allah dan kunjungan mereka ke Kairo sehingga Abdurahman Al-Batawi menambahkan laqab “Al-Mashri” pada namanya.
            Abdurahman Al-Mashri Al-Batawi bersama Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahab Al-Bugisi kembali ke Nusantara pada 1186/1773. Sebelum ke Banjarmasin, atas permintaan Al-Batawi, Muhammad Arsyad tinggal di Batavia selama dua bulan. Kendati dia tinggal di Batavia hanya untuk waktu yang relatif singkat tetapi dia mampu melakukan pembaruan penting bagi kaum Muslim di Batavia. Beberapa masjid di Batavia dibetulkan arah kiblatnya. Menurut perhitungannya,  kiblat masjid-masjid di Jembatan Lima (Masjid Kampung Sawah/Masjid Al-Mansur) dan Pekojan, tidak diarahkan secara benar menuju Ka’bah dan karenanya harus dirubah. Kontroversipun bermunculan di kalangan para pemimpin muslim di Batavia sehingga Gubernur Jenderal Belanda memanggil Muhammad Arsyad untuk mengklarifikasi masalah itu. Muhammad Arsyad menjelaskan perhitungan secara matematis sehingga membuat gubernur terkesan dan memberikan hadiah kepadanya. Di kemudian hari, pembetulan arah kiblat itu juga diusulkan Abdurahman Al-Batawi di Palembang ketika dia mengadakan perjalanan ke sana sekitar tahun 1800 yang juga menimbulkan kontroversi di sana. Sayangnya, tidak diketahui data yang valid mengenai kiprah dan peran Abdrurahman Al-Batawi selanjutnya di Betawi termasuk kapan wafatnya.
      Berbeda dengan Azra, sumber lain menyebutkan bahwa Syaikh Abdurrahman adalah orang Mesir. Ia adalah kakek Sayyid Usman Mufti Betawi dari jalur ibu yang bernama Aminah. Syaikh Abdurrahman Al-Mashri Al-Batawi dimakamkan di komplek Masjid Jami Al-Islam jalan KS Tubun Raya, depan RS Pelni Petamburan Jakarta Pusat. Untuk membedakan dengan yang lain, makamnya dikelilingi pagar hijau dan nisannya bertuliskan Arab.



SUMBER :

Judul Buku:
ULAMA BETAWI
(Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20).

Penulis: Ahmad Fadli HS

Penerbit: Manhalun Nasyi-in Press, Jakarta, 2011

ISBN978-602-98466-1-4



KRH. Muhammad Amin (GURU AMIN KALIBATA) 1901-1965


     Kiai Raden Haji Muhammad Amin atau yang akrab dipanggil Guru Amin lahir pada 03 Juni 1901 di Kebayoran Lama dari pasangan KH. Raden Muhammad Ali atau Guru Ali asal Jatinegara Kaum Jakarta Timur dan Maryam
        Leluhur Guru Amin dari pihak ayah sampai kepada Pangeran Muhammad Syarief (Pangeran Sanghiyang) yang dimakamkan di Pemakaman Jatinegara Kaum. Saat masih kecil Amin tinggal di Kalibata Pulo dan belajar agama kepada ayahnya. Ketika ayahnya wafat pada tahun 1913 atau saat Amin berusia 12 tahun, ia mempelajari sendiri kitab-kitab peninggalan ayahnya sehingga beberapa tahun kemudian ia mampu menggantikan posisi ayahnya mengajar fiqih Fathul Mu’in di Masjid Salafiyah Kalibata Pulo yang didirikan oleh ayahnya, Guru Ali. Konon, bila Amin mengalami kesulitan maka ia bisa menemui ayahnya lewat mimpi kemudian mengajarkan dan memberitahukan solusi pemecahan kepadanya.
        Sejak ayahnya wafat, ia belajar kepada kakaknya, KH. Zainudin yang dipanggil Guru Ending sampai Amin berusia 18 tahun dan Guru Ending pindah ke Cilendek Bogor. Selain kepada ayah dan kakaknya, Amin juga berguru kepada Guru Marzuqi Cipinang Muara, Guru Mansur Jembatan Lima, Guru Abdurrahim Kuningan dan Syaikh Mukhtar At-tharid Bogor di Makkah.
        Pada tahun 1919 atau saat berusia 18 tahun ia menikah dengan Fatimah kemudian ia pindah ke Kalibata Jakarta Selatan. Untuk menghidupi keluarganya ia berbisnis bahan bangunan yang memang banyak digeluti para haji di Betawi kala itu.
        Karena bisnisnya berhasil maka pada tahun 1930 ia membeli tanah hampir satu hektar di pinggir Jalan Raya Pasar Minggu yang kemudian menjadi bagian dari areal Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Di sana ia membangun rumah, pesantren Unwanul Huda dan menggerakkan bisnisnya berjualan pasir, kapur, genteng, batu bata, semen, bambu, ubin dan bahan material bangunan lainnya.
        Untuk belanja bahan bangunan ia pergi ke Bekasi. Perjalanan Kalibata-Bekasi saat itu menempuh waktu sampai larut malam hingga Amin menginap di salah satu mushola di Bekasi. Suatu ketika, Amin menginap di mushola tersebut dan sedang diadakan pengajian. Guru ngaji di mushola itu  dalam mengajarnya terdapat kesalahan sehingga dikoreksi oleh Amin. Hal itu sering dilakukan oleh Amin setiap ia belanja ke Bekasi dan menginap di mushola tersebut. Rupanya, guru tersebut mengadu kepada ulama setempat bahwa ia sering dikoreksi oleh Amin dalam setiap mengajar. Hingga pada akhirnya ulama setempat mengundang masyarakat lain yang lebih banyak dari biasanya untuk menghadiri pengajian di mushola dengan harapan dapat bertemu Amin. Betul saja. Amin kembali menginap di mushola itu. Seperti biasa, Amin selalu membetulkan setiap kalimat yang salah dari guru ngaji tersebut. Rupanya ulama setempat dari awal sudah memperhatikan jalannya pengajian dan menyimak koreksian dari Amin. Akhirnya ulama setempat mengetahui bahwa Amin lebih pandai dari guru ngaji mushola itu dan mempersilahkan Amin untuk mengajar. Belakangan diketahui bahwa ulama setempat itu adalah mertua KH. Noer Ali dan kemudian hari mertuanya mempersaudarakan mereka berdua. Sejak itu, setiap Guru Amin pergi ke Bekasi untuk membeli material ia menginap dan mengajar di mushola tersebut. Tidak hanya itu, pada akhirnya banyak juga masyarakat dari Bekasi, Cikampek, Cikunir dan Cabangbungin yang kemudian menjadi santri Guru Amin di Unwanul Huda.
        Guru Amin disamping sebagai ulama juga seorang pejuang. Ia berteman dekat dengan KH. Noer Ali, pejuang dari Bekasi dan H. Darip, pejuang dari Klender. Guru Amin memimpin para santri dan pemuda dalam pertempuran melawan Belanda di Kalibata, tepatnya di sekitar pabrik sepatu Bata sekarang yang kala itu masih berupa hutan karet. Korban yang berjatuhan di antara kedua belah pihak cukup banyak. Peristiwa inilah yang kemudian mengilhami pemerintah menunjuk Kalibata sebagai Taman Makam Pahlawan.
        Sejak pertempuran di Kalibata, Guru Amin dicari-cari oleh Belanda dan para antek-anteknya. Suatu ketika, Belanda mendapatkan Guru Amin berada di rumah mertuanya, H. Abdullah di Kalibata. Di sana ada Guru Amin, Hasbullah Amin, puteranya dan Syarifah, salah satu familinya yang keturunan Arab. Melihat mereka bertiga Belanda mengira bahwa Guru Amin adalah bapak dari Syarifah yang keturunan Arab. Belanda melihat wajah Guru Amin seperti orang Arab dan bertanya kepada Syarifah, “apa dia bapakmu ?” Syarifah menjawab tanpa ragu “iya”. Merasa yang dicari tidak ada maka Belanda mencari Guru Amin di tempat lain dan Guru Amin selamat tidak tertangkap.
        Menyadari bahwa situasinya tidak kondusif lagi maka pada tahun 1946 Guru Amin hijrah ke Cikampek dengan menggunakan KA dari Stasiun Manggarai dan menyamar sebagai tukang beras. Selama dua tahun dalam pengungsian, Guru Amin ditampung oleh sahabatnya, KH. Syafi’i Ahmad. Di Cikampek, Guru Amin dan para santrinya yang berasal dari sana memimpin perjuangan melawan penjajah lewat beberapa pertempuran di berbagai front.
        Guru Amin kembali lagi ke Kalibata pada tahun 1948. Ketika ditinggal ke Cikampek oleh Guru Amin, ternyata rumahnya sudah diacak-acak. Semua kitab yang disimpan di tiga lemari dihancurkan sehingga tidak bisa digunakan lagi. Ketika kembali ke Kalibata, para santri dan masyarakat menyambutnya dengan suka cita. Hampir tiap hari rumah Guru Amin dikunjungi oleh santri dan masyarakat. Akhirnya Belanda mencurigai Guru Amin melakukan mobilisasi massa sehingga ia tidak diperbolehkan keluar rumah kecuali mengajar di Pesantren Unwanul Huda dan para santri yang harus datang ke sana.
        Setelah perang kemerdekaan, Pemerintah Pusat melalui Ir. Sofwan meminta Guru Amin menjadi Ketua Mahkamah Islam Tinggi (MIT) yang berkedudukan di Solo. Guru Amin menolak secara halus karena tidak mendapat restu dari ibunya. Akhirnya jabatan tersebut diserahkan kepada KH. R. Muhammad Adnan.
        Pada tahun 1950 Menteri Agama, KH. Masykur meminta bantuan Guru Amin untuk membentuk penghulu-penghulu (sekarang Kantor Urusan Agama/KUA) di sekitar Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Karawang. Guru Amin merekrut dan mengangkat para santrinya yang mumpuni untuk mengemban tugas tersebut. Dalam waktu relatif singkat terbentuklah 22 penghulu di 22 Kecamatan yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya, Tambun, Cibitung, Lemahabang hingga Pebayoran dan Cabangbungin, wilayah terpencil yang merupakan muara dari kali Citarum.
        Setelah tugas membentuk KUA selesai, Guru Amin melaporkan langsung kepada Menteri Agama KH. Masykur. Selanjutnya KH. Masykur meminta bantuan Guru Amin untuk bersedia menjadi Kepala Penghulu yang mengawasi kepala-kepala KUA. Guru Amin diminta menjadi Kepala Penghulu karena para kepala KUA adalah para murid Guru Amin dan karena memang keilmuan Guru Amin yang tidak diragukan lagi.
        Guru Amin juga aktif di NU dan berkiprah di Partai Masyumi. Rumah Guru Amin kerapkali dikunjungi tokoh Masyumi seperti Muhammad Natsir, Hamka, Abu Bakar Aceh, Harsono Cokroaminoto dan lain-lain. Guru Amin juga menjadi anggota KNIP dan anggota Dewan Perumus Persiapan Proklamasi Kemerdekaan bersama tokoh nasional lainnya seperti Soekarno, Hatta, Abdul Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, Muh. Yamin, Soepomo dan lain-lain. Mereka kerapkali menggelar rapat penting di rumah Soekarno, jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta Pusat (kini Tugu Proklamasi).
        Setelah tidak bertugas di Departemen Agama, Guru Amin kembali membenahi Lembaga Unwanul Huda sehingga dikenal di masyarakat Betawi. Lokasi Unwanul Huda berada tepat di seberang TMP Kalibata. Di tempat ini berdiri juga masjid Guru Amin yang cukup megah.
        Guru Amin juga produktif menulis beberapa karya, di antaranya Badi’atul Fikriyah, Mudzakaratul Ikhwan, Riyadhul Abrar, Hidayatul Ikhwan dan Sabilal Mubtadi. Hampir selama 50 tahun ia aktif menulis, mengajar dan memberikan ceramah di berbagai tempat.
        Guru Amin dikaruniai 19 orang anak. Di antaranya KH. Abdul Aziz Amin, KH. Zayadi Amin, KH. Syarifudin Amin, Ustadzah Hj. Darjah Amin, Drs. KH. Hasbullah Amin, Drs. H. Makmun Amin dan lain lain. Putra Guru Amin yaitu Drs. KH. Hasbullah Amin pernah menjadi anggota DPRD DKI dari Partai NU pada tahun 1971-1977 dan PPP pada tahun 1977-1982 lalu DPR RI dari PPP pada tahun 1982-1987, sementara Makmun Amin adalah mantan Asisten Keuangan Pemprov DKI Jakarta. Seorang cucu Guru Amin, Dadang Kafrawi pernah menjadi Walikota Jakarta Selatan dan seorang keponakannya, Muhayat pernah menjadi Walikota Jakarta Pusat dan Sekda Provinsi DKI Jakarta.
        Guru Amin wafat pada Selasa 04 Jumadil Ula 1385 H bertepatan 31 Agustus 1965. Awalnya, jenazah Guru Amin akan dimakamkan di TMP Kalibata. Guru Amin layak dimakamkan di TMP Kalibata karena ia seorang pejuang dan telah mendapatkan Surat Veteran dari Menteri Veteran saat itu, Sambas Atmadinata. Akan tetapi H. Syaikhu Ketua DPR RI dan H. Syafi’ie Wakil Gubernur DKI Jakarta yang melayat saat itu menyarankan jenazah Guru Amin tidak dimakamkan di TMP Kalibata agar para murid-muridnya bisa dengan mudah untuk berziarah. Setelah keluarga Guru Amin bermusyawarah akhirnya Guru Amin dimakamkan di komplek Unwanul Huda dekat masjid Guru Amin Jalan Raya Pasar Minggu, di seberang TMP Kalibata Jakarta Selatan setelah mendapatkan surat idzin pemakaman dari Sumarno Gubernur DKI Jakarta saat itu. Masjid Guru Amin sendiri berdiri pada 31 Juli 2005 yang dibangun oleh anak keturunannya sebagai tanda terima kasih mereka terhadap orang tuanya.
            Setelah wafatnya Guru Amin, seorang anggota Badan Pemerintah Harian (BPH) Bidang Pendidikan dan Nama Nama Jalan Pemda DKI Jakarta, MCH. Ibrahim mengusulkan agara nama Guru Amin dijadikan nama jalan di wilayah Kalibata. Akan tetapi para keluarga dan keturunannya menolak dengan halus karena bagi mereka Guru Amin berjuang untuk negeri secara ikhlas dan tidak membutuhkan namanya dijadikan nama jalan.


SUMBER : 

Judul Buku:
ULAMA BETAWI
(Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20).

Penulis: Ahmad Fadli HS

Penerbit: Manhalun Nasyi-in Press, Jakarta, 2011

ISBN:

                                      978-602-98466-1-4

Sabtu, 09 Agustus 2014

AMARULAH ASBAH (BANG UWO) ; POLITISI BETAWI DAN NU


Bang Uwo ; Jangan Anti Partai Politik

          Saya awalnya mendengar nama Amarullah Asbah atau biasa dipanggil Bang Uwo setelah Pemilihan Gubernur dan Wagub DKI Jakarta periode 2002-2007. Saat itu saya bersama teman-teman FKMB (Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi) melakukan aksi unjuk rasa menolak dicalonkannya Sutiyoso sebagai Gubernur DKI Jakarta dan mendesak partai partai untuk mencalonkan tokoh Betawi sebagai Gubernur DKI Jakarta.
          Pada akhirnya, Rabu 11 September 2002 melalui rapat paripurna DPRD DKI Sutiyoso dan Fauzi Bowo terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI dengan meraih 47 suara dari 85 anggota DPRD yang mengikuti rapat pemilihan. Para demontran—termasuk FKMB—kecewa dengan hasil pemilihan tersebut dan berujung dengan bentrokan dengan aparat kepolisian.
          Malam harinya, saya dan teman-teman FKMB (ada Boim. Erwin, Anwar, Yusup Cupeng dkk) berkumpul di Kenari untuk melakukan evaluasi dan refleksi atas hasil pemilihan tersebut. Di antara teman-teman ada yang kecewa kepada partai politik dan anggota DPRD yang tidak aspiratif. Bahkan ada teman teman yang anti Partai Politik.
          Kekecewaan generasi muda Betawi ternyata juga diamati oleh Bang Uwo yang saat itu menjadi anggota DPRD DKI dari Fraksi Golkar. Kendati saat pemilihan Partainya Bang Uwo mendukung Sutiyoso-Fauzi Bowo tetapi Bang Uwo bisa memaklumi sikap politik para generasi muda. Bang Uwo memberikan nasehat politik kepada generasi muda Betawi agar tidak anti partai politik. Anak muda Betawi harus masuk partai politik dan menjadi anggota dewan jika ingin orang Betawi menjadi gubernur Jakarta ke depan.
          Dalam beberapa kesempatan Bang Uwo kerapkali memberikan wejangan kepada generasi muda Betawi agar tidak anti kepada partai politik dan jika perlu masuk ke semua parpol yang ada. Hal ini bisa saya pahami karena bang Uwo melihat banyak kader muda Betawi yang tergabung dalam FKMB adalah aktivis mahasiswa dari PMII, HMI dan GMNI yang seringkali turun jalan mengkritisi parlemen dan pemerintah. Saya sendiri selain aktivis FKMB juga aktivis PMII yang acapkali unjuk rasa menentang bahaya laten Orde Baru dan mendukung pembubaran Partai Golkar saat itu, Partai dimana Bang Uwo bergabung.
          Melihat kader muda Betawi yang kritis Bang Uwo tidak alergi bahkan merangkul mereka karena merupakan kader muda potensial ke depan. Ia menyewa Kantor Ciks Cikini untuk dijadikan ajang kongkow-kongkow generasi muda dan aktivis Betawi. Bang Uwo mengadakan pengajian politik setiap malam Jumat yang dihadiri para aktivis muda. Tiap malam Jumat itu bang Uwo memberikan paparan tentang pentingnya peran dan kiprah generasi muda Betawi ke depan. Di Gedung Ciks inilah tempat ajang tumpah gagasan kaum intelektual muda Betawi yang difasilitasi oleh Bang Uwo.
          Dalam beberapa hal tertentu, Bang Uwo juga ikut turun gunung bersama anak muda Betawi seperti ketika mengajukan protes keras kepada Menpora Adhyaksa Dault pada bulan November 2006. Saat itu puluhan aktivis dan tokoh Betawi keberatan pada teks sambutan Adhyaksa dalam peringtaan Hari Sumpah Pemuda yang tidak mencantumkan peran orang Betawi. Tak ayal, teks pidato yang dibukukan dan disebarkan ke sejumlah lembaga itu memancing kemarahan orang Betawi. Menanggapi keberatan tersebut, Menpora meminta maaf dan mengatakan bahwa teks pidatonya yang dibukukan itu tidak sama dengan teks aslinya. Dengan kata lain, pidato yang ada di tangan Bang Uwo dan tokoh Betawi lainnya itu dipalsukan.
          Dalam perjalanannya, kendati sudah tidak duduk di DPRD lagi, Bang Uwo tetap “merawat” generasi muda Betawi. Ia tetap memberikan waktu khusus untuk anak muda Betawi. Ia selalu hadir dalam setiap kegiatan aktivis muda Betawi, terutama FKMB. Bang Uwo tidak hanya datang acara pengkaderan anak Betawi saja, bahkan ia kerapkali datang acara pernikahan anak muda Betawi yang dibina oleh Bang Uwo. Hampir semua anak muda Betawi yang menikah bang Uwo pasti hadir. Jarang ada tokoh Betawi seperti Bang Uwo yang tetap setia mendengar curhatan dan keluh kesah anak muda Betawi baik keluh kesah berkaitan tentang politik, organisasi hingga keluh kesah pribadi.

Bang Uwo ; NU Yang Betawi, Betawi Yang NU

          Betawi dan NU merupakan dua sisi yang sulit dipisahkan. Beberapa tradisi amalan ibadah Betawi itu sama seperti NU begitupun sebaliknya. Yang agak beda adalah tokoh Betawi belum tentu tokoh NU begitu juga sebaliknya dan aktivis Betawi belum tentu aktivis NU begitu juga sebaliknya. Tapi hal itu tidak berlaku buat bang Uwo. Ia adalah NU yang Betawi dan Betawi yang NU. Dalam suatu kesempatan Bang Uwo pernah bilang  "Ane malu kalo berbuat yang kaga bener, di pundak ane ada dua beban, pundak kanan ada NU dan di pundak kiri ada Betawi, dipotong tangan ane keluar darah NU dan Betawi"
            Bang Uwo pantas berkata demikian karena Bang Uwo merupakan Mantan Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta satu periode dengan KH. Hasyim Muzadi yang saat bersamaan menjadi Ketua PW GP Ansor Jawa Timur. Tidak hanya itu, bang Uwo juga paham sejarah NU baik di Jakarta maupun luar Jakarta. Saya sendiri sering mendengar cerita NU dari Bang Uwo karena banyak cerita NU terutama NU Jakarta yang tidak terungkap dalam buku sejarah NU. Bang Uwo bercerita tentang peran dan kiprah H. Abdul Manaf, kakek H. Fauzi Bowo dalam mengembangkan NU di tanah Betawi. Sehingga bang Uwo anggap wajar ketika Fauzi Bowo menjadi Ketua PWNU DKI Jakarta yang dianggap meneruskan perjuangan kakeknya, H. Abdul Manaf.
            Ketika masih menjadi anggota Banser, belum menjadi Ketua Ansor DKI Jakarta, bang Uwo bercerita bahwa dia merasa bangga bisa menjadi seksi keamanan dalam setiap acara Muktamar NU. Bang Uwo bertugas mengawal kiai kiai sepuh selama di arena muktamar dan Bang Uwo merasa kagum dengan kadar kealiman para kiai NU dalam komisi bahtsul masa’ail. “Ane bawain tuh kitab kitab para kiai kalo lagi mau bahtsul masa’il, ga apa apa deh ane kaga lancar baca kitab kuning, moga aja ada berkahnye” ujar Bang Uwo suatu sore hari di Kantor Bamus Betawi.
            Di depan bang Uwo jangan coba coba mengaku aktivis NU Betawi. Bang Uwo bisa dikatakan tim verifikasi ke-NU-an orang Betawi, Pernah ada tokoh Betawi yang mengaku aktivis NU di masanya dan berharap dimasukkan menjadi Dewan Penasehat GP Ansor DKI Jakarta. Ketika hal itu saya konfirmasi kepada Bang Uwo maka dengan enteng bang Uwo bantah “Ane tuh paham siapa aja orang Betawi yang aktivis NU, jangankan dia ngomong, dia dehem aja ane udeh tau dia aktivis NU atau bukan”
            Seperti dalam bidang lain, tentang NU juga bang Uwo seperti ensiklopedi berjalan. Kalau kepada yang lain Bang Uwo bercerita hanya tentang budaya Betawi, maka kepada saya ditambah lagi tentang NU. Nampaknya Bang Uwo seperti ketemu teman ngobrol yang pas dengan saya jika cerita tentang NU. Ini wajar karena bang Uwo tahu kalau saya adalah anak muda Betawi yang santri dan alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Bang Uwo juga bercerita ketika ia ikut hadir Muktamar NU ke 30 di Lirboyo Kediri tahun 1999. Tidak hanya itu bang Uwo juga mengenal peran kiprah para Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo seperti KH. Mahrus Ali, KH. Maksum Jauhari dan KH. Idris Marzuqi.

Bang Uwo ; Pilkada DKI Jakarta 2007 dan 2012  

            Dalam hajatan Pilkada DKI Jakarta peran kiprah Bang Uwo tak terbantahkan, baik dalam pilkada DKI Jakarta 2007 maupun 2012. Dalam Pilkada 2007 Bang Uwo dipercaya sebagai Ketua Tim Pemenangan Fauzi Bowo-Prijanto sementara saya menjadi Koordinator Kelurahan (Koorkel) Fauzi Bowo Center (FBC) Karang Anyar Sawah Besar Jakarta Pusat.
Dalam perhelatan politik tersebut Bang Uwo menjadikan ajang perjuangan kaum Betawi dan NU berkuasa di Jakarta. Hal ini bisa dimaklumi mengingat Fauzi Bowo adalah Mantan Ketua PWNU DKI Jakarta dan cucu dari H. Abdul Manaf, tokoh Betawi yang memiliki kontribusi besar terhadap NU di Jakarta. Dasar itulah yang membuat NU DKI Jakarta begitu solid mendukung Fauzi Bowo pada Pilkada 2007 terlebih rivalnya pada saat itu adalah Adang Darajatun dan Dani Anwar dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memiliki faham ideologi yang berbeda dengan NU.
            Ketika proses masih berlangsung hampir semua partai mendukung Fauzi Bowo-Prijanto, hanya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang belum menyatakan sikap. PKB awalnya mencalonkan Rano Karno sebagai Cagub DKI Jakarta. Suatu kesempatan Bang Uwo pernah berkata kepada saya bahwa dukungan PKB sangat berarti buat Fauzi Bowo. “Fauzi Bowo itu NU dan harus didukung oleh PKB. Kalau PKB kaga dukung Fauzi Bowo kaya pake baju kaga pake kancing, kaga enak dilihat” Dan pada akhirnya, saat detik terakhir penutupan pendaftaran calon di KPUD DKI Jakarta akhirnya PKB menyerahkan berkas dukungan kepada Fauzi Bowo-Prijanto.
            Perjuangan akhirnya berbuah manis. Berdasarkan penghitungan hasil rekapitulasi suara maka pasangan calon Fauzi Bowo-Prianto memperoleh 57,87 persen suara, sedangkan pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar memperoleh 42,13 persen. Seluruh warga Betawi dan NU bersuka cita karena akhirnya perjuangan menjadikan orang Betawi menjadi Gubernur DKI Jakarta berhasil dengan sukses.
Kendati demikian, fenomena romantis tersebut tidak terulang pada Pilkada 2012. Jika pada Pilkada 2007 NU DKI Jakarta solid mendukung Fauzi Bowo akan tetapi pada Pilkada 2012 NU terbagi dua kubu, kubu structural dan kultural. Jika kubu structural dipersepsikan mendukung Jokowi-Ahok sementara kubu kultural dipersepsikan mendukung Fauzi-Nahrowi.
Bang Uwo sudah menduga bahwa NU akan jadi kendaran politik pilkada 2012. Dengan dukungan arus bawah untuk menyelamatkan NU maka Bang Uwo didaulat untuk dimajukan sebagai calon Ketua NU DKI Jakarta. Dua kandidat yang bertarung saat itu, Bang Uwo dan Djan Farid memiliki kepentingan yang berbeda mengenai Pilkada. Jika Bang Uwo dipersepsikan sebagai tokoh yang mendukung Fauzi Bowo sementara Djan Farid sebaliknya. Kemudian pada akhirnya 4 PCNU memilih Djan Farid menjadi Ketua PWNU sementara Amarullah Asbah dipilih oleh 2 PCNU.
Menyadari bahwa Djan Farid sebagai Ketua PWNU akan membawa gerbong struktur NU DKI Jakarta untuk tidak mendukung Fauzi Bowo maka Bang Uwo membentuk FB Aswaja (Forum Bersama Warga Ahli Sunnah Wal Jama’ah) sebagai wadah berkumpulnya para tokoh dan kader NU cultural yang tetap setia mendukung Fauzi Bowo. Langkah Bang Uwo mendapat dukungan berbagai pihak yang peduli terhadap nasib NU ke depan. Salah satunya adalah saya sendiri yang lebih memilih mundur dari Wakil Sekretaris PWNU DKI Jakarta dibawah komando Djan Farid dan bergabung ke FB Aswaja dibawah komando Bang Uwo dan Sanusi Abu Bakar dan saya menjadi Ketua FBJ (Forum Bersama Jakarta) Sawah Besar sebagai wadah tim pemenangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dalam Pilkada DKI Jakarta 2012.
Sejarah manis tidak terulang, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli kalah dalam perolehan suara. Dalam rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara di tingkat provinsi oleh Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta Jokowi-Basuki meraih 2.472.130 suara atau 53,82 %. Sementara itu, pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli mengantongi 2.120.815 suara atau 46,18 % dari jumlah suara sah.
Kekalahan tersebut tentu saja menyakitkan bagi masyarakat Betawi yang gagal mempertahankan kemenangannya yang telah diraih saat Pilkada 2007 lalu. Kendati demikian, Bang Uwo tetap mengajak kepada semua komponen Betawi berlapang dada menerima hasil pahit dan harus dijadikan bahas intropeksi diri dan evaluasi.

SMS terakhir Bang Uwo.

          Minggu 11/5, saya mendapat sms dari Bang Uwo yang isinya menyampaikan keberatan bang Uwo kepada PKB--Partai tempat saya bergabung—yang akan berkoalisi dengan PDIP dan mendukung Jokowi sebagai Capres 2014. Saya pun menjawabnya agar saya diberi waktu untuk ketemu Bang Uwo membicarakan Pilpres dan Betawi ke depan. Bang Uwo menyanggupi beberapa hari ini akan kumpulkan lagi teman teman bicarakan Pilpres dan membentuk ABJ (Aliansi Betawi Jaya). Namun dua hari berselang bukan sms follow up dari Bang Uwo yang saya dapat justru sms khabar wafatnya Bang Uwo pada Selasa (13/5/2014) sore. Tentu saja khabar ini mengagetkan. Ternyata sms Minggu lalu atau dua hari sebelumnya adalah sms terakhir Bang Uwo kepada saya. Akhirnya saya memforward sms dan broadcast berita duka cita tersebut kepada teman teman. Tentu saja tidak hanya saya yang sedih dan berduka, semua masyarakat Betawi yang mengenal Bang Uwo merasa kehilangan sosok panutan yang selama ini bisa dijadikan ajang curhat, ajang keluh kesah, ajang diskusi dan lain sebagainya.
          Selasa malam di rumah saya sebelum saya ta’ziyah ke rumah duka, saya membuka buku karya saya yang berjudul Ulama Betawi. Dalam halaman terakhir saya membaca komentar singkat Bang uwo tentang buku saya sebagai berikut :

Penghargaan saya kepada adinda Ahmad Fadli HS yang telah menyusun buku ini sebagai karya intelektual. Sangat jarang anak Betawi yang terpanggil untuk menyusun buku seperti yang kita baca sekarang. Mari kita contoh keteladanan para Ulama, pemberi warna kehidupan bagi masyarakat Jakarta khususnya masyarakat Betawi. Teguh dalam beriman, berkarya mulia pada zamannya. Dari zaman ke zaman pula jasa dan pengabdian para ulama tetap dikenang.
Amarullah Asbah (Mantan Anggota DPRD DKI Jakarta & Tokoh Betawi)

Bang Uwo… Insya Allah perjuangan abang akan kami lanjutkan. Semoga amal ibadah abang diterima oleh Allah SWT…. Alfatihah……

Jakarta, Ahad 10 Agustus 2012 jam 2.40


Ahmad Fadli HS